Guru Menulis

Mengembalikan Ruh Hubungan Antara Orangtua dan Sekolah

Oleh Ahmad Fikri Sabiq, S.Pd.I

Siang tadi, Ahad (30/9), saya ngobrol santai dengan seorang kawan rumahnya di Noborejo, Salatiga berbicara tentang pendidikan. Olehnya, pembicaraan tentang pendidikan disinggungnya dengan pendekatan yang ada dalam dunia bisnis. Dia memang menggeluti bisnis jasa bidang developer website. Teh tubruk hangat dan sepiring jeruk manis menemani pembicaraan kami sembari memainkan laptop menyelesaikan proyek bersama.

Pembicaraan kami dimulai dengan pembicaraan soal bisnis jaman sekarang. Dalam dunia bisnis, misalnya jual-beli, interaksi antara pembeli dan penjual sifatnya masih biasa. Dalam artian tidak ada ruh dan ikatan hati antar keduanya. Apalagi di era teknologi global, dengan adanya jual beli online, terlebih adanya market place semakin menghilangkan interaksi kemanusiaan antara pembeli dan penjual.

Penjual online sekedar menampilkan apa yang dia miliki dengan berharap ada orang yang melirik. Begitu juga dengan pembeli yang sekedar mencari apa yang dia butuhkan. Ketika ada yang cocok ya langsung dipilih, dibayar, dan ditunggu. Tidak sampai seminggu, barang yang diinginkannya tersebut sudah sampai di hadapannya lewat kurir. Hampir sama sekali tidak ada interaksi kemanusiaan antara pembeli dan penjual.

Lebih lanjut, tidak adanya interaksi kemanusiaan tersebut berdampak pada cara pandang masing-masing pihak. Pembeli beranggapan bahwa dia sudah membayar uang kepada penjual. Dia merasa bahwa posisi dia lebih tinggi dari para seorang penjual. Jadi sangat wajar ketika ada keterlambatan barang datang lalu pembeli tersebut melakukan komplain kepada penjual seenaknya saja. Penjual dianggap sebagai pesuruh yang wajar untuk dimarah-marahi ketika ada unsur ketidakpuasan. Begitulah cara pandang dari pembeli, ketika dia sudah membayar, maka dia merasa layak mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa memperdulikan hal-hal lain yang sifatnya kemanusiaan.

Nah, nampaknya, paradigma yang ada di dunia bisnis tersebut nampaknya dibawa oleh sebagian masyarakat kita kaitannya dengan pendidikan. Ketika orang tua mensekolahkan anaknya di suatu lembaga pendidikan, ketika dia sudah membayar administrasi, maka dia merasa layak untuk mendapatkan haknya dengan baik.

Secara normal, hal tersebut sebenarnya tidak masalah. Namun, ketika ada rasa sedikit ketidakpuasan dari orang tua terkait dengan apa yang ada di sekolah, orang tua tersebut langsung memberikan respon dengan kata-kata yang seharusnya tidak pantas disampaikan oleh orang tua kepada sekolah atau pihak-pihak yang ada di sekolah. Padahal sekolah atau pihak-pihak yang ada di sekolah tersebut adalah orang yang membantu orang tua untuk mendidik anaknya, baik secara moral, akhlak, maupun pengetahuan. Lebih jelasnya, ketika orang tua sudah melakukan kewajibannya, maka dia merasa layak untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan haknya.

Begitu juga sebaliknya dengan sekolah. Pandangan bahwa pendidikan adalah bagian dari bidang bisnis ini perlu dimusnahkan. Ketika pengampu sekolah beranggapan bahwa pendidikan adalah bisnis, maka yang terjadi adalah berlomba-lomba dalam memberikan layanan terbaik kepada customer (baca: orang tua wali murid). Ketika yang terjadi adalah berlomba dalam memberikan pelayanan, maka tak lain menganggap bahwa warga sekolah adalah babu yang berusaha memberikan yang terbaik kepada majikannya agar diberi pujian atau uang tambahan oleh di majikan.

Ketika kedua belah pihak, yakni pengampu lembaga pendidikan dan orang tua wali murid, sudah memiliki pandangan sebagaimana di atas, maka hilang sudah nilai-nilai luhur dari ilmu.

Pembicaraan kami di ruang tamu ini dilanjutkan berkaitan dengan cara pandang yang seharusnya dimiliki oleh orang tua wali murid dan pihak sekolah. Pihak sekolah harus memiliki cara pandang bahwa yang diembannya adalah ilmu dan nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya. Sebaliknya, orang tua harus berpandangan bahwa yang dicarinya adalah perubahan moral, perkembangan akhlak, dan bertambahnya wawasan pengetahuan dari anak-anaknya. Selain itu, dengan terbangunnya interaksi kemanusiaan antara orang tua dan sekolah ini bisa menurunkan keberkahan bagi kedua pihak, termasuknya keberkahan dari ilmu yang didapatkan oleh anak-anaknya tersebut. Ketika cara pandang ini sudah dimiliki oleh kedua belah pihak, maka tidak akan ada lagi orang tua melaporkan guru anaknya kepada polisi.

Wallahulmusta’an.

Sltg, 30/9/18

Facebook Comments

Related Articles

Back to top button