Guru Menulis

Melaksanakan Amanat Perpres No. 87 Tahun 2017

Oleh Ahmad Fikri Sabiq, S.Pd.I

Dalam pendidikan keagamaan Islam, ada sebuah kelembagaan bernama Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), yaitu lembaga pendidikan keagamaan Islam non formal yang terdiri dari jenjang awaliyah/ula, wustho dan ‘ulya. Lembaga pendidikan ini didirikan oleh masyarakat sebagai sarana untuk belajar agama bagi anak-anak. Secara detail, menurut laman pontren.com menyebutkan bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan Islam di luar pendidikan formal yang diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang sebagai pelaksanaan pendidikan keagamaan. Karena diselenggarakan oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal, MDT memiliki kondisi yang bermacam-macam sesuai dengan kultur dan kebutuhan masing-masing masyarakat.

Secara kelembagaan, Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) atau madrasah diniyah (keagamaan) secara umum bernaung di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Islam. Ahmad Zayadi, Direktur Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, menuturkan bahwa Madrasah Diniyah memiliki peran penting dan posisi strategis kaitannya dengan keagamaan di tanah air. Peran penting yang dimaksud adalah bahwa madrasah diniyah memiliki peran keagamaan yang sentral yang sudah ada sejak lama. Dalam beberapa kondisi, madrasah mengeksiskan diri berupa pondok pesantren.

Selain memiliki peran keagamaan, madrasah memiliki peran dalam hal kebangsaan. Kaitannya dengan peran kebangsaan ini, madrasah memiliki sanad perjuangan, yaitu perjuangan melawan penjajah. Selanjutnya, madrasah diniyah tetap harus memerankan peran kebangsaan kaitannya dengan mendidik agama, akhlak dan moral generasi anak bangsa ke depan, terkhusus kaitannya dengan penguatan pendidikan karakter.

Dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter Bab I pasal 4 disebutkan bahwa penyelenggara pendidikan karakter terdiri atas satuan pendidikan jalur pendidikan formal. Selanjutnya, dalam Bab II pasal 6 disebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Dan dalam pasal 8 disebutkan bahwa kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dapat dilakukan melalui kerjasama antar satuan pendidikan formal, satuan pendidikan formal dengan satuan pendidikan non formal, dan Satuan Pendidikan Formal  dengan lembaga keagamaan/lembaga lain yang terkait.

Berkaitan dengan Perpres tersebut, ada peluang yang bisa diambil oleh madrasah diniyah kaitannya dengan penguatan pendidikan karakter, yaitu sekolah diniyah bisa bekerjasama dengan lembaga pendidikan formal setempat agar keduanya berjalan maksimal. Kerjasama antara madrasah dan lembaga pendidikan formal bisa memaksimalkan program penguatan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah.

 

Kondisi Madrasah Saat ini

Tidak dipungkiri bahwa bagi masyarakat umum, sekolah formal lebih menarik dari pada pendidikan madrasah diniyah dengan berbagai alasan. Pertama, sekolah formal dianggap mampu mengajarkan materi yang bermanfaat secara langsung untuk kehidupan seseorang bahkan bisa lebih menjamin untuk masa depan duniawi. Sedangkan madrasah diniyah dianggap kurang mampu untuk memberikan hal lebih kaitannya dengan duniawi.

Kedua, sekolah formal menjadi program wajib belajar pendidikan dasar yang dicanangkan oleh pemerintah. Sedangkan madrasah diniyah selama ini hanya dianggap untuk menambah wawasan keagamaan yang secara serentak bukan program wajib dari pemerintah.  Ketiga, sekolah formal bisa menghasilkan selembar ijazah yang bisa digunakan untuk melanjutkan ke sekolah di jenjang selanjutnya. Sedangkan di madrasah tidak menjanjikan adanya ijazah, atau meskipun ada ijazah tapi hanya bisa disimpan. Keempat, masyarakat secara umum yang kurang menyadari pentingnya pendidikan keagamaan yang itu wajib dijalani oleh setiap orang muslim. Alasan-alasan di atas yang setidaknya menjadikan madrasah diniyah kurang menjadi hal pokok yang harus ditempuh oleh masyarakat sehingga keberadaan madrasah kurang dianggap penting.

Kondisi di atas menyebabkan beberapa dampak, diantaranya: pertama, anak-anak yang tidak menempuh pendidikan agama kurang memahami pendidikan agama Islam yang di dalamnya memuat tentang akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak yang kemudian berdampak kepada karakter seseorang. Kedua, keberadaan madrasah menjadi suatu hal yang bisa diistilahkan ”hidup susah mati tak mau” karena pelan-pelan ditinggalkan oleh masyarakat. Ketika hal ini terjadi, pelan-pelan madrasah akan tutup dan bubar dengan sendirinya. Sehingga yang awalnya keberadaan madrasah diharapkan bisa mendidik anak bangsa menjadi hilang padahal salah satu unsur penguatan pendidikan karakter adalam pendidikan agama.

Di satu sisi, sekolah formal yang muatan kurikulum keagamaan terbatas menyebabkan program penguatan pendidikan karakter tidak berjalan maksimal. Khusunya kaitannya dengan karakter keagamaan. Oleh karenanya, kalau melihat Perpres Nomor 87 Tahun 2017 bisa dikatakan bahwa ada peluang kerja sama yang bisa dilakukan oleh satuan pendidikan formal dengan lembaga pendidikan keagamaan untuk mengembangkan program penguatan pendidikan karakter.

Peluang inilah yang bisa diambil oleh kedua belah pihak atau diawali oleh salah satu pihak dimulai dari lembaga induk di kementerian sampai ke bagian pelaksana langsung di daerah. Dan selanjutnya, perlu diketahui bahwa ini adalah amanah Perpres Nomor 87 Tahun 2017 yang harus dilaksanakan dengan semaksimal mungkin.

Facebook Comments

Related Articles

Back to top button