Karya Siswa

Jasa yang Tidak Pernah Dibalas | Cerpen

Oleh: Jihan Kamilia Az-Zahra

 

Namaku Kamilia Syila Nafiza. Aku sekolah di SD Sinar Harapan. Aku mempunyai sahabat bernama Rahma. Sikapnya itu cerewet, mukanya cantik, dan suaranya pun merdu. Kami biasanya bermain bersama. Belajar bersama dan menyukai hal-hal yang sama.

“Kriiiiing…..Kriiiiing……” Bel pulang berbunyi seperti biasa. Teman-teman pun keluar dengan rapi. Aku pulang bersama Rahma.

“Hei kamu mau ini?” Tanua Rahma sambil menawarkan cokelat yang ada digenggamannya.

“Hmmmm ya…“ Aku menerimanya dengan senang hati.

“Bagaimana? Enak?” Rahma menanyakan rasa cokelat buatannya sendiri.

Duh bagaimana ya? Aslinya ini tidak enak. Tapi jangan kuberitahu ah pikirku.

“Hemmm enaaakkk” Aku pura-pura memakannya dengan lahap.

Begitulah gambaran persahabatan kami, antara aku dan Rahma.

 

Sekarang hari kedua rahma belum datang ke sekolah.

“Hei ada yang tahu Rahma dimana?” Aku menanyakan keadaannya dengan rasa khawatir.

“Maaf Sil, kami tidak tahu menahu soal Rahma.” kata Veri yang sibuk dengan mainannya sendiri.

“Assalamu’alaikum” Salam seseorang dari luar kelas.

“Waalaikumsalam” Jawabku. Lalu seseorang masuk kelas.

“Rahmaaa…!!!” Seruku dengan suara lantang.

“Ada apa?” Rahma bingung karena tiba-tiba aku memeluknya.

“Aku khawatir” Aku menunjukkan wajah manisku ke Rahma.

“Hemmm sudahlah ini kubawakan kue yang membuat ibuku sendiri” kata Rahma sambil menawarkan bolu atau kuenya.

“Aku mau” aku langsung merebut kuenya dari Rahma.

“Enak?” Tanya Rahma yang terbiasa kepo rasa.

“Hemmm wah enak. Apa ini resepnya?” tanyaku sambil berbohong lagi.

“Hemmm aku gak tahu” jawabnya jujur.

Aku sangat bahagia memiliki teman seperti Rahma ini.

 

Sekarang hari ketiga. Hari ulang tahunku.

“Assalamualaikum” Salam seseorang dari depan pintu.

“Waalaikumsalam” Jawab umiku.

“Bu, Syila ada?” Tanya seseorang yang masih ada di depan pintu.

“Ya silakan masuk” Umi mempersilahkan.

Rumahku ini bercat luar hijau dan bercat dalam biru.

“Hai Sila” sapa seorang yang terlihat pucat.

“Hemmm Rahma…” Aku membalas sapaannya sambil menguap lebar.

“Ada apa?” Aku bertanya lagi.

“Kamu mau ini es krim buatanku sendiri?” Katanya sambil menggerak-gerakkan es krim di depan mukanya. Aku langsung loncat memakan es krim itu dengan lahap.

“Selamat ulang tahun. Rahma memperlihatkan sebuah kado yang bertulis I Love Best Friend Forever.”

Wah senangnya dapat ucapan dari sahabatku, Rahma.

“Ini silahkan diminum tehnya dulu” Kata umiku sambil membawakan tehnya ke tempat aku dan Rahma berbicara tentang Raihan.

“Terima kasih mi” Aku mencicipinya walau masih panas.

“Ini mbak Rahma” Umi menyodorkan teh yang satu lagi ke Rahma.

“Terima kasih Bulek” Ucapnya sambil tersenyum manis.

Itu hari ketiga yang menyenangkan bersama sahabat yang selalu memberikan makanan kesukaannya untuk dinikmati bersama.

 

Hari ini hari keempat, rencananya aku akan berlibur dengan keluarga.

Saat ingin pergi berlibur dengan keluarga, tiba-tiba aku dipanggil Eyang Yanti yang rumahnya di depan rumahku. Eyang yanti berkata: “Nak Syila, tolong kasih ini ke Rahma. Terima kasih.”

Aku langsung menemui Rahmadi rumahnya.

“Rahma… Tunggu…!!” Teriakku sambil berlari kelelahan saat melihat Rahma mau masuk rumah.

Sesampai di depannya tepat, aku berkata: “Ini surat dari Eyang Yanti”. Aku menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan kecil-kecil dan susah dimengerti.

“Pinjam” Katanya dengan sopan. Aku memberikannya dengan gemetar.

“Apa isi surat itu?” Aku bertanya dengan rasa penasaran.

“Hemmm… kata nenekku, ibuku memiliki kanker otak.” Katanya dengan rasa cemas.

“Lalu bagaimana?” Aku masih saja panik dan berteriak dengan suara kencang.

“Ya sudah.. ku doakan semoga cepat sembuh.“ kataku.

Tapi tak berapa lama Rahma tergeletak di tanah disertai suara yang keras.

Aku berteriak keras. “Aaaaa……. “

Tak berapa lama, Rahma bangun dari tempat tidur rumah sakit. Aku yang menangis beberapa kali merasa lega saat Rahma bangun.

“Alhamdulillah, kamu bangun juga” tanyaku dengan rasa cemas didampingi seorang perawat.

“Dek, menurut dokter, kamu akan meninggal tak lama lagi. Dokter itu berkata kepada Rahma.

“Apa?” tanya Rahma yang kaget dan langsung pingsan. Perawat pun panik saat itu, dan memeriksa ternyata Rahma sudah tidak bernafas.  Aku tidak percaya. Aku menangis tersedu-sedu saat Rahma menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit.

“Terima kasih sahabatku.” Batinku sesaat setelah Rahma diperiksa dokter.

 

Belakangan, diketahui bahwa Rahma juga menderita kanker otak seperti ibunya.

Itulah Rahma, sahabat yang saling membantu saat suka maupun duka, selalu ada di sisiku, dan mengajariku arti sebuah persahabatan.

 

 

Penulis : Jihan Kamilia Az-Zahra

Kelas     : VI (Enam)

Sekolah                : SD Plus Tahfizhul Qur’an An-Nida Salatiga

Hobi       : Membaca

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button