Karya Siswa

Guruku Idolaku | Cerpen

Oleh Nadhia Amalia Putri

Pada suatu hari ada seorang anak yang bernama Dinda. Dia sekolah di SD Permatasari. Dinda memiliki teman yang bernama Raisa dan Dolly. Mereka adalah seorang teman yang memiliki kekurangan yang sama yaitu mereka kurang mampu dalam pelajaran matematika. Jika ada ulangan, mereka selalu mendapat nilai 70. Tapi KKM matematika paling sedikit 72. Ketika itu, diadakan Ulangan Akhir Semester (UAS). Mereka sangat takut mendengar kabar itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk belajar bersama di taman kota. Saat hendak melewati sebuah mushola, Dinda dan teman-temannya melihat guru matematika mereka yang bernama Bu Azka. Mereka akhirnya belajar bersama Bu Azka.

Karena kabar UAS sangat mendadak, mereka harus memperhatika Bu Azka juga karena mereka sudah kelas enam jadi ulangannya sangat susah pastinya. Setelah Bu Azka menjelaskan dengan penuh kesabaran, mereka bertiga akhirnya paham dengan apa yang dijelaskan Bu Azka.

Malam pun tiba, masing-masing anak sibuk belajar kecuali tiga anak yang bernama Dinda, Raisa dan Dolly. Mereka tinggal nonton TV dan membaca lagi saja. Pagi pun tiba, setelas UTS IPA, diselesaikan, tibalah UTS matematika. Dolly mengumpulkan lebih awal karena tadi malam dia masih membaca buku paket lagi. Raisa dan Dinda menonton TV. Tibalah saatnya dibagikan hasil UTS yang kelas enam kerjakan. Mereka bertiga mendapat nilai bagus yaitu 100. Bu Azka dengan bangga mengatakan “Tidak sia-sia kuajari mereka kemarin”

Setelah UTS dijalani, tibalah waktunya UN (Ujian Nasional). Setelah dapat nilai 100, mereka lupa dengan tugas mereka. Mereka hanya sibuk bermain di taman luar desa. Dari pagi sampai malam belum juga pulang. Ibu mereka mencari higga kemana-mana. Dan akhirnya ada ibu Dolly yang bernama Bu Sari. Bu Sari melihat Dinda, Raisa dan Dolly sedang bermain kejar-kejaran hingga sampai lari-lari di jalan raya. Bu Sari pun memanggil 3 orang anak tadi dan diajak pulang oleh Bu Sari. Sampai rumah mereka bertiga dimarahi habis-habisan oleh ibunya karena tidak belajar. Besok ada UN lalu mereka menyombongkan diri karena sudah pintar.

Mereka berkata pada ibunya “Tidak usah kawatir mamah, aku sudah pintar jadi tidak perlu belajar”

Pagi pun dilalui saatnya dimulai UN. Ada 40 soal dan 150 peserta. Saat mengerjakan Dinda dan tiga orang temannya kebingungan mengerjakan soal matematika no. 22 yaitu tentang pembagian bersusun panjang. Karena sudah banyak yang mengumpulkan, jadi Dinda dan temannya menjawab hanya diarang. Akhirnya mereka tidak naik kelas karena nilainya paling rendah yaitu 6,5. Orang tuanya pun memarahi anak-anaknya karena tidak belajar dan menyombongkan diri setelah mendapatkan nialai bagus.

Tiga anak itu pun merasa menyesal dan menangis, tetapi Bu Azka tetap menghibur mereka bertiga sebab mereka harus tinggal kelas. Setelah satu tahun menjalani kelas 6, tibalah waktu UN. Mereka bertiga takut dan teringat akan kejadian satu tahun yang lalu. Tapi Bu Azka meyakinkan mereka dan Bu Azka menyuruh Dolly, Dinda dan Raisa ke taman kota lagi untuk belajar bersama seperti dulu. Mereka akhirnya bisa berkumpul dan belajar bersama-sama. Selain Bu Azka, guru matematika dia juga guru pelajaran umum. Setelah belajar cukup lama, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Pagi pun tiba, UN akhirnya dilaksanakan. Jumlah soal kini tambah banyak yaitu jumlah soalnya 50 dan pesertanya berjumlah 200 peserta. Mereka bertiga pun mengumpulkan paling pertama dan saat pengumuman Dinda mendapatka juara 3, Raisa mendapatkan juara 2 dan Dolly mendapat juara 1. Mereka sangat senang, terutama orang tua dan Bu Azka. Bu Azka berkata “Jika ada usaha pasti akan Berjaya, jika bermalas-malasan pasti akan kalah”.

Dinda, Raisa dan Dolly berpikir Bu Azka selalu mendukung mereka saat mereka kurang percaya diri dan saat mereka sedih pasti Bu Azka akan menghibur mereka dengan ikhlas dan tulus. Saat ibu dan ayah Dinda, Raisa dan Dolly sedang mencari SMP. Dinda, Raisa, Dolly dan Bu Azka berbicara tentang Bu Azka yang akan pulang ke Pontianak untuk selamanya. Makin lama mendengar cerita Bu Azka, Dinda, Raisa dan Dolly meneteskan air mata.

Bu Azka akhirnya segera memesan tiket penerbangan di bandara. Dinda, Raisa dan Dolly menangis akan kepergian Bu Azka. Mereka membuat surat untuk Bu Azka. Bu Azka sangat bangga dengan muridnya. Bu Azka menanyakan cita-cita mereka, lalu dengan kompak mereka menjawab “kami ingin menjadi guru”.

Bu Azka sangat bangga dengan ketiga muridnya yang melalui cobaan yang berat. Saat ingin memberi surat perpisahan, ada teman pondok Bu Azka berkata bahwa Bu Azka telah pergi ke bandara dari pukul 08:00 pagi tadi.

Mereka sangat sedih dan menangis dengan air mata yang sangat menyedihkan. Merekapun membuat poster yang berisi tentang guruku idolaku, guruku pelita hidupku, guruku adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan lain-lain. Bu Azka di dalam pesawat ujuga menangis dengan hati yang bangga bisa mengajar muridnya sampai lulus SD.

 

 

 

 

Identitas

 

Nama             : Nadhia Amalia Putri

Alamat            : Suruh, Kab. Semarang

Kelas              : V (Lima)

Sekolah         : SD Plus Tahfizhul Qur’an Annida Salatiga

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button